57 ribu siswa di kota Bandung terancam putus sekolah. 34.689 anak di Kabupaten Bone tidak sempat menyelesaikan pendidikan dasar.
Suatu sore di sebuah town square di Jakarta, sejumlah remaja seliweran sambil bersenda gurau. Beberapa duduk santai di kafe atau resto, sambil asyik ngobrol menikmati makanan atau sekadar kopi hangat. Nampak gelang karet berwarna merah menyolok melingkari pergelangan tangan mereka. Ada yang mengenakan di tangan kanan, adapun yang di kiri. Dan mereka tampak bangga mengenakan “aksesoris” tersebut.
Namun, tak hanya para remaja saja yang menggilai gelang “gaul” ini, melainkan juga manula, sekretaris, manajer investasi, artis, pengamat ekonomi, ketua LSM, sampai juga menteri dan mantan menteri. Melintasi batasan usia dan profesi.
“Benar-benar di luar dugaan, bahwa gelang ini bisa laku 7.000 buah dalam waktu dua bulan,” ujar Yudhistira Juwono, penggagas gelang solidaritasKEBERSAMAAN alias gelang karet “gaul” berwarna merah.
“Padahal, kami hanya mentargetkan terjual 1.000 gelang perbulan,” paparnya antusias.
Kisah berawal saat Yudhis membaca sebuah majalah terbitan luar negeri, dan menemukan artikel tentang produk bernama wristband support atau gelang peduli yang langsung menyedot perhatiannya.
Produk tersebut berupa gelang karet beraneka warna. Setiap warnanya melambangkan dukungan terhadap suatu tujuan. Walaupun simpel, ternyata gelang tersebut berhasil ‘menggerakkan’ hati banyak orang.
Penasaran, Yudhis segera mencari lebih banyak informasi tentang gelang peduli melalui internet. Bersama istrinya, Yudhis juga melakukan survei kecil-kecilan kepada para keponakan yang masih duduk di bangku SMP dan SMA, serta mencari informasi di sejumlah majalah lokal. Pria bertubuh tinggi ini sempat kaget bahwa tren gelang peduli yang tengah happening di berbagai negara, ternyata sama sekali tidak menyentuh Indonesia.
Setelah membulatkan tekad, dan didukung penuh oleh istri dan keluarganya, serta dibantu oleh teman-teman di kompleks perumahan tempatnya tinggal, Yudhis memberanikan diri membuat gelang peduli untuk solidaritas Indonesia. “Prinsipnya, kalau laku kan lumayan bisa membantu anak Indonesia,” tekad Yudhis waktu itu.
Dipilihlah warna merah, sesuai dengan salah satu warna bendera dwi warna. “Tadinya mau pakai warna putih, tapi ternyata sudah dipakai oleh program Make Poverty History, yang dimotori Nelson Mandela dan Bono,” jelas Yudhis.
Untuk tulisan pada gelang, Yudhis memilih solidaritasKEBERSAMAAN, kata yang pernah diucapkan oleh Presidan RI Susilo Bambang Yudhoyono di TV, saat terjadi bencana di Aceh tahun 2004 lalu. “Wah, sempat diledek teman-teman: ‘nggak ada yang lebih norak lagi?’,” ujarnya sambil tertawa.
Permasalahan timbul berkenaan dengan penyaluran sumbangan hasil penjualan gelang tersebut.
“Kalau orang yang kenal kita sih, nggak masalah. Karena mereka sudah tahu dan percaya. Tapi kalo belum kenal, kemungkinan bakalan curiga: dikemanain nih uangnya?” Yudhis berkisah. “Disitulah kami bertemu dengan Seto Mulyadi, Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA), yang juga dikenal sebagai pemerhati anak.”
Kepada Kak Seto, Yudhis menyampaikan idenya untuk membuat gelang kepedulian, yang sebagian hasil penjualannya akan disumbangkan ke program-program Komnas PA. Ide tersebut langsung disambut gembira oleh Kak Seto.
Selain Kak Seto, Yudhis juga menggandeng artis Dik Doang yang dikenal dekat dan peduli dengan anak. “Padahal waktu itu Dik Doang baru pulang dari Aceh, masih capek. Namun dia sangat antusias mendengar ide ini,” kenang Yudhis. Kedua tokoh ini lalu menjadi ikon bagi solidaritasKEBERSAMAAN.
Pada tanggal 21 Februari 2005 Yudhis secara resmi menjual gelang solidaritasKEBERSAMAAN. Awalnya dia mencoba menjual melalui media, namun karena belum banyak yang tahu mengenai gelang peduli, respon yang diterima kurang menggembirakan. Akhirnya dia memutuskan untuk promosi dari mulut ke mulut, mencoba menjual kepada sanak saudara dan teman. Ternyata teknik ini berhasil.
“Saya banyak dibantu oleh simpatisan, orang-orang yang nggak saya sangka mau membantu,” papar Yudhis.
Dari mulai fotografer untuk materi iklan sampai web designer yang membantu men-develop situs www.tunascendekia.org. Begitu pula hasil perkenalannya dengan sejumlah orang, membuahkan jejaring yang memberi dukungan bagi usaha Yudhis.
“Seorang teman, yang merupakan penyelenggara acara Jakarta International Java Jazz Festival, bahkan memberikan booth secara gratis untuk kami,” ujar Yudhis bersemangat. “Menyewa booth di acara tersebut mencapai puluhan juta!” Padahal, awalnya Yudhis hanya berharap teman barunya tersebut bersedia mengenakan gelang merah tersebut, agar komunitasnya juga tertarik.
Menyebarkan kepedulian, itulah sebetulnya yang dituju Yudhis dengan gelang solidaritasKEBERSAMAAN. “Agar saat satu orang memakai, dia dapat menyebarkan kepedulian yang sama kepada orang lain, dan begitu seterusnya,” ujar Yudhis.
Hasil penjualan gelang di dua bulan pertama (February-Maret’05) akan direalisasikan dalam bentuk Mobil Perpustakaan Keliling untuk Anak Indonesia.
BOX
Bermula dari Kanker
Kandidat presiden AS, John Kerry, memakai gelang kuning. Pejuang anti-apartheid, Nelson Mandela, dan musisi grup band U2, Bono, memilih gelang putih. Pemain sepak bola, David Beckham, mengenakan gelang biru, sedangkan rekannya, Thiery Henry dan Ronaldinho memakai gelang hitam putih.
Kuning, putih, biru, hitam putih, dan warna lain. Gelang-gelang ini tak hanya punya warna, tapi juga punya tujuan.
Memang tidak ada fakta sejarah yang pasti mengenai awal booming-nya gelang peduli. Tapi nampaknya gelang kuning LiveSTRONG, sebagai bentuk kepedulian terhadap peyakit kanker, adalah yang mengawali.
Kampanye gelang kuning (Wear Yellow) ini digagas oleh Lance Armstrong, atlet balap sepeda pemenang enam kali Tour de France, yang didiagnosa menderita kanker kandung kemih. Lance akhirnya berhasil sembuh dari kanker yang dideritanya, dan menjadi inspirasi bagi banyak orang. 40 juta gelang berhasil terjual dalam kampanye ini. Dan angka itu terus bertambah.
Sementara gelang putih menjadi perlambang kampanye memerangi kemiskinan. Berkat dukungan pemenang Nobel Perdamaian, Nelson Mandela, dalam waktu beberapa minggu saja, 100.000 gelang ludes terjual.
Berbagai gelang dengan warna lain juga tersedia, seperti biru untuk mendukung kampanye anti-bullying, hitam putih untuk kampanye anti rasialisme, oranye tua untuk AIDS/LifeCycle, merah muda untuk kanker payudara, dan sebagainya.
Namun, hati-hati, karena ada pula gelang yang dibuat semata untuk aksesoris alias tujuan komersial belaka.
Jadi, yang mana gelang Anda?