
Selasa, 30 Oktober 2007 - RSIA Muhammadiyah Taman Puring  "Begini kondisi bayinya, Pak, Bu. Dua lilitan yang dulu ada di leher, sekarang satu lilitan pindah ke badan. Jadi kita tetap sesuai rencana, yaitu cesar," ujar Dr. Chamim SpOG. "Ok, Dokter. Kondisi bayi sehat, kan?" ujar ku. "Alhamdulillah, sehat. Jadi, mau kapan cesarnya?" "Kami memutuskan tanggal 1 November 2007, hari kamis ini, dokter." "Ok, kalau begitu, jadwalnya enakan sore yah. Masuk rumah sakit dari paginya." "Ok, dokter. -------------------- Yanti, istri kakak ipar gue, juga sedang hamil. Tadinya rumah sakitnya di RS International Bintaro. Tapi, hari ini mereka ikutan gue dan Nina untuk cek ke Dr. Chamim. Hasilnya, ternyata tekanan darah Yanti tinggi sekali. Oleh Dr. Chamim, Yanti diberi obat penurun tekanan darah, agar tidak membahayakan bayi dalam kandungan. -------------------- Rabu, 31 Oktober 2007 - Rumah "Nduti, dah disiapin belum, apa yang mau dibawa besok?" tanyaku pada Nina. "Udah tuh. Ada di tas kuning," jawab Nina. "Baju pulang si kecil? Baju kamu?" "Udah, kok. Udah lengkap. Jangan lupa ambil duit." "Iya sayang." "...................................." "Nduti, kok diem aja?" "Takut, Mas." "..........., eh jangan nangis gitu." "................................." "Nduti, yang tabah. Yang kuat ya sayanggg..." "Iya, mas." "Dah, tidur dulu. Besok kita berangkat pagi-pagi ke rumah sakit, lho." "Iya, mas." -------------------- Sore ini Yanti dirawat di RSIA Muhammadiyah Taman Puring. Kemungkinannya akan di cesar malam nanti. Padahal, skejulnya dia akan melahirkan normal minggu depan. Tapi ternyata keputusan cesar nanti malam dibatalkan, karena kondisinya dah stabil. -------------------- Kamis, 1 November 2007 - RSIA Muhammadiyah Taman Puring  Pagi, sekitar pukul 09.00, gue, Nina, Mama dan Papa, berangkat ke rumah sakit. Pas mendaftar ke desk administrasi, ternyata kamar kelas II sedang penuh, dan yang ada tinggal Kelas II Plus, yang setara dengan kelas I. Gak ada pilihan, gue ambil opsi itu. Sore, sekitar pukul 17.00, usai Nina mandi, dia dipindahkan ke ruang persiapan operasi. Suasana di sana agak tense, karena berbarengan dengan Nina adalah seorang istri yang bayinya baru memiliki berat 1,8kg (USG), tapi harus segera di cesar. Sang bapak, dipojokan ruangan terus menangis, membuat gue jadi panik. Selesai gue sholat Maghrib, Nina masuk ke ruangan operasi. "Cium tangan suaminya dulu," ujar suster Nur. Lantaran tangan kanan Nina sedang diinfus, gue akhirnya mencium keningnya. Setelah itu Nina masuk ruangan. Gue segera mengenakan baju khusus ruangan operasi, dan masker, tapi dilarang masuk oleh suster Nur. Rupanya ada pasien lain di dalam. Setelah menunggu kurang lebih 30 menit, akhirnya pada pukul 18.40, terdengar tangisan dari dalam ruang operasi. Gue dan bapak yang satu lagi, berpandangan, saling klaim. "That's my baby. Not yours." begitu barangkali pikiran masing-masing dari kami. Which is kala diingat-ingat jadi agak lucu, karena kami pandang2an kayak dalam sinetron... jeng jeng jeng jeng..... Suster keluar membawa seorang bayi. "Ini bayi ibu Nina," ujarnya keras. "Bayi Nina. Nina? It's my baby! My Baby!!!!! Bayi Gue!!!  Ya Allah! Terima kasih, Ya Allah!!! Subhannallah!!! Bayi mungil itu menangis sangat kerasssss!!! Wajahnya imut, lucu dan cantikkkk!! Hidungnya bangirrr!!! "Langsung diadzankan," kata mama. Aku langsung mengambil posisi, untuk mengadzankan. "Allahuakbar...Allahuakbar!" "Anton, telinga kanan bayi," seru mamaku. Rupanya aku mengadzani telinga kiri bayiku,. alias sisi kananku! Ah, konyol sekali. Maafkan papamu yah nakkk... Aku mulai mengadzani bayiku, dengan papa mertuaku di belakangku, mendampingiku, dan menjaga agar aku tidak salah mengucapkan adzan. Namun, ternyata justru papa yang malahan mengucapkan qomad. Aduuuhh... kacau sekaliiii!! Sekali lag maaf ya ndukkk. Papa dan opa minta maaf yahhhh... "Keluarga bayi Nina!" seru perawat. "Ya," ujarku. "Ini bayinya ya, Pak. Jenis kelamin perempuan, wajah lengkap: hidung, dua mata, mulut dan  dua telinga. Tubuh lengkap, dua tangan dengan masing-masing lima jari, dan dua kaki dengan masing-masing lima jari. Ini ada tanda tahi lalat di atas telinga kiri." "Iya, suster." "Lahir jam 14.40." "Iya, suster." Legaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!!!!!!!!!!!!!! Tapi, eitsss.... gimana kabar istriku? Gimana kabar Ninaku? Gue bergegas ke ruang pemeriksaan dan syukurlah bertemu Dr. Chamim. "Dokter, terima kasih!" "Sama-sama. Sehat kok bayinya." "Terima kasih, dokter. Tapi bagaimana istri saya?" "Ibunya juga baik-baik saja. Sehat kok. Lagi di ruang pemulihan. Nanti juga keluar." "Terima kasih dokter...." Legaaaaaaaaaaa..................... Selamat datang ke dunia, Annisa Alivia Kyandaru. Selamat datang Kyan sayang. --------------------  Pagi pukul 7 lewat, Yanti akhirnya dicesar, dan lahirlah bayi yang juga lucu dan sehat bernama Luna Shafaa Harrizon Jadi, pada tanggal 1 November 2007, mertua gue dapet dua cucu sekaligus. Beda jam ajah. Bayinya Harry dan Yanti dijuluki Fajar Utama, bayi ku dan Nina dijuluki Senja Utama. Jeremiah Teti meringkuk di kursi belakang taksi, sambil menggigil kedinginan. Bilur-bilur keringat deras mengucur, sementara jantungnya berdetak keras. Sementara Kurnia Ahmad terus memacu taksinya di tengah kepadatan lalu lintas jalan tol, berjibaku menyelamatkan nyawa penumpangnya. Pagi itu, Jum’at 16 Februari 2007, Kurnia Ahmad, 41, berangkat kerja dari rumahnya di Jalan Raya Bogor KM 400, dengan menggunakan angkutan umum. Lalu lintas, seperti biasa, tampak padat dengan berbagai kendaraan umum dan pribadi. Di Simpang Depok, angkutan umum yang ditumpanginya terjebak macet, walau tak seberapa lama. Sekitar 25 menit kemudian, Kurnia tiba di pool taksi Blue Bird Cimanggis, tempatnya bekerja sebagai pengemudi taksi. ”Begitu tiba di pool, saya langsung mengambil SIO atau Surat Izin Operasi dan memeriksa kelayakan kendaraan,” ujar suami dari Yuyun Zubaidah. ”Setelah itu, menggunakan GPS, saya menunggu order.” Penantian Kurnia tak sia-sia. Sekitar 30 menit kemudian, dia mendapatkan order untuk membawa tamu ke kawasan Jakarta Pusat. ”Lumayan, ke tengah kota nggak habis-habiskan bensin,” jelas pengemudi yang baru dua tahun bekerja di Blue Bird. Dari tamu pertama, Kurnia mendapatkan tamu ke dua, ketiga dan seterusnya, sampai menjelang sore hari datang sebuah order untuk mengantar tamu ke Tangerang dari Kantor SCTV di Gedung Graha Mitra, Jalan Gatot Subroto. ”Saya baru selesai mengantar tamu ke Kuningan Barat, dan karena posisi saya tidak terlalu jauh dari kantor SCTV, maka saya meng-ok-kan,” papar Kurnia, yang menyempatkan menjalankan kewajiban Sholat Ashar, sebelum mengambil order tersebut. Sekitar pukul 16.45 WIB, Kurnia tiba di Kantor SCTV. *** Jeremiah Teti, 39, atau Jeremy, Produser Program di Liputan 6 dan Program Buser, merasa kondisi badannya kurang enak sore itu. ”Padahal, ketika pagi tadi tiba di kantor, badan terasa fit sekali,” ujar Jeremy. Suasana di studio SCTV memang sedang sibuk, lantaran banjir yang melanda kota Jakarta. Bagi pria kelahiran Atambua, Timor, yang mengawali karirnya sebagai Penyiar Kontinuiti – yang muncul pada jeda antara satu program dengan program lain, kesibukan ini bukanlah hal baru lantaran sudah sejak tahun 1994, saat SCTV masih berpusat di Surabaya, dia bekerja di stasiun TV ini. ”Setelah semua pekerjaan beres, saya pun pamit pulang,” jelas Jeremy. Seperti biasa, dia memesan taksi lewat telepon, dan tak lama kemudian sebuah taksi telah menunggunya di lobi gedung Graha Mitra. * ”Selamat sore, Pak,” sapa Kurnia. ”Mau diantar ke mana?” Jeremy lalu menyebutkan tujuannya di kawasan Cikokol, Tangerang, Banten. ”Mau lewat mana, Pak?” tanya Kurnia lagi. ”Langsung lewat tol saja, Pak,” jawab Jeremy. ”Jalan tol Kebon Jeruk, langsung Cikokol.” Taksi pun langsung meluncur masuk ke jalan tol dalam kota. Baru beberapa saat berkendara, Jeremy merasa tubuhnya semakin tak enak saja. ”Maaf, Pak Sopir. Kondisi saya sedan tidak sehat. Bisa tolong kecilkan saja AC-nya?” Kurnia pun segera menaikkan suhu AC kendaraannya, supaya tidak terlalu dingin. Dari kaca spion dalam moblnya, Kurnia dapat melihat kondisi Jeremy yang kelihatan kurang enak badan. Namun tak lama setelah itu, Jeremy meminta Kurnia untuk mematikan sama sekali AC mobil. ”Kacanya dibuka sedikit saja, Pak,” pinta Jeremy, yang langsung dilakukan oleh Kurnia. ”Tamu saya benar-benar sakit,” ujar Kurnia dalam hati, ketika lagi-lagi melirik kondisi Jeremy lewat kaca spionnya. Jeremy kemudian menelpon ke Rumah Sakit Honoris, minta untuk dipersiapkan kedatangannya. Tak lupa pula dia mengabari orang di rumahnya tentang keadaannya. Ketika masuk Pintu Tol Kebon Jeruk, Jeremy benar-benar sudah menggigil parah. Bilur-bilur keringat dingin mengucur dari sekujur tubuhnya. Jeremy tak henti-hentinya mengerang kesakitan, ”Aduh, Pak. Aduh.” Kurnia tentunya ikut panik, ”Maaf, bapak sakit apa?” ”Kadar gula saya drop, Pak,” jelas Jeremy. ”Kalau saya nggak kuat, tolong bawa ke Rumah Sakit Honoris.” Bersamaan dengan itu, Jeremy menyerahkan kartu Rumah Sakit Honoris dan Kredit Voucher Taksi Blue Bird kepada Kurnia. Karena Kurnia tahu di mana lokasi rumah sakit, yaitu di Kebon Nanas, Tangerang, yang kebetulan searah dengan tujuan tamunya, dia segera tancap gas, berjibaku dengan kepadatan lalulintas jalan tol, pada sore hari itu. Keluar dari jalan tol, Kurnia mencoba memanggil-memanggil Jeremy, tapi tidak ada jawaban. Jeremy pingsan! Kurnia semakin berusaha secepatnya tiba di rumah sakit, dan akhirnya mereka sampai juga. * Begitu tiba di halaman rumah sakit, Kurnia segera berlari menuju bagian Unit Gawat Darurat, dan meminta tolong beberapa petugas untuk membantunya. ”Pak, tolong! Tamu saya sudah parah!” ujarnya panik. Sejumlah petugas UGD segera mendatanginya. Dengan dibantu beberapa petugas UGD, Kurnia mengangkat tubuh Jeremy yang lunglai tak berdaya ke atas bangsal atau tempat tidur beroda. Sebuah tas milik Jeremy segera diletakkan di keranjang bangsal yang digunakan untuk membawa Jeremy masuk ke ruangan UGD. Saat Jeremy dibawa masuk, Kurnia tetap menunggu untuk mengetahui keadaan tamunya tersebut. ”Saya menunggu sampai dokter yang menangani tamu saya itu keluar lagi,” papar Kurnia yang tidak tahu bahwa Jeremy adalah seorang penyiar TV kondang. Sekitar 15 menit kemudian, dokter yang menangani Jeremy keluar. Kurnia langsung mendatanginya dan memberondongnya dengan sejumlah pertanyaan, ”Bagaimana kondisi tamu saya, Dokter? Apakah baik-baik saja? Sudah sehat? Bagaimana keluarganya?” Dokter lalu menjelaskan bahwa kondisi Jeremy sudah mulai pulih, dan keluarganya sedang menuju ke rumah sakit. Selain itu, dokter juga menjelaskan bahwa dia dan sejumlah kru SCTV adalah pasien tetap di Rumah Sakit Honoris. Mendengar itu, legalah hati Kurnia. ”Lalu, soal pembayaran taksi bapak, bagaimana?” tanya dokter balik. ”Tamu saya sudah memberi voucher, Dokter,” jawab Kurnia. Merasa tanggungjawabnya sudah selesai, Kurnia pun segera berpamitan dengan dokter. *** ”Halo, Pak,” sapa Jeremy kepada Kurnia, ketika mereka bertemu lagi untuk pertama kalinya di Kantor SCTV, sejak kejadian tersebut. ”Ya, Pak,” jawab Kurnia santun. ”Kalau bukan karena bapak ini, saya sudah mati,” ujar Jeremy sambil tersenyum lebar, sementara Kurnia menunduk malu. Seusai kejadian, Jeremy mengaku beberapa kali mencoba menghubungi Kurnia, namun selalu gagal. ”Mungkin lantaran saya tidak mempunyai ponsel pribadi,” ujar Kurnia. Jeremy juga mengirimkan surat ucapan terima kasih kepada Kurnia karena telah menolongnya, yang kemudian oleh atasan Kurnia di pool Cimangis, disampaikan kepada yangbersangkutan. Tak hanya itu. Pada saat acara Panorama di SCTV bersama Donna Agnesia, beberapa hari kemudian, Jeremy pun sempat kembali mengucapkan terima kasih kepada Kurnia,. ”Istri saya, yang kebetulan menonton acara itu, sempat bilang ’nama bapak disebut-sebut sampai tiga kali di SCTV’,” ujar Kurnia. Dan sejak itu, kami belum pernah bertemu lagi, sampai Reader’s Digest Indonesia mempertemukan kami.” ”Saya sempat bilang ke Pak Kurnia, ’kalau saya sampai meninggal, bawa saja kembali ke lobi kantor SCTV untuk diurus,” kenang Jeremy sambil tertawa lebar. Menurut Jeremy, kejadian dropnya kadar gula darah di taksi ini sudah yang ketiga kalinya, dan terjadi hampir setiap dua tahun sekali. ”Lucunya, semua terjadi di atas taksi Bule Bird,” jelasnya sambil bercanda. Turunnya kadar gula darah, menurut Jeremy, lantaran dia melakukan diet agar berat badannya turun. ”Maklum, kalau berat badan naik, saya langsung diomelin, ’itu muka udah bulat begitu’,” papar Jeremy, yang sebetulnya biasa mengantongi permen untuk dikonsumsi saat kadar gula darahnya turun, namun saat itu tidak. Ketika Kurnia ditanyakan apakah dia sempat khawatir bahwa kondisi tersebut dimanfaatkan tamunya untuk berbuat jahat, dia menjawab tak ada sedikit pun kecurigaan atau kekhawatirannya atas hal tersebut. ”Saya hanya takut tamu saya meninggal di taksi saya,” jawabnya polos. Bagi Kurnia, dia merasa lega dapat menolong orang lain. ”Intinya hanya rasa kemanusiaan saja,” ujar Kurnia, yang bersama istrinya Yuyun, dikaruniai 9 orang anak – 4 orang putra dan 5 orang putri. ”Kalau kita berada di posisi tersebut, pasti kita berharap mendapat pertolongan dari sesama.” 
“Cheerleader” Untuk Indonesia
Kepeduliannya atas negeri ini kerap beroleh tanggapan miring bahkan kecurigaan . Namun Iwan dan Indah nekad jalan terus, mewujudkan cita-cita mereka menjadi cheerleader alias pemandu sorak, yang menyemangati seluruh rakyat Indonesia.Pagi itu, tanggal 26 Desember 2004, sekitar pukul 09.00WIB, Iwan Esjepe, 40, dan istrinya, Rachmayani Indah Setianingrum, 37, tengah sarapan di sebuah restoran yang terletak di pinggir pantai Kuta, Bali. Sambil asyik memperhatikan pemandangan, dan putra mereka, Ikyu Muti Arrumi, 5, yang tengah asyik bermain di pantai, Iwan sempat melontarkan tanya kepada Indah, “Wah, kalau ada tsunami kita lari ke mana, nih?” Indah menanggapi canda Iwan sekadarnya saja. Usai sarapan plus menikmati keindahan alam pantai Kuta, mereka pun kembali ke hotel. Tak berapa lama, sebuah pesan SMS yang berasal dari Indri Sudowo, adik Iwan yang tinggal di Brisbane, Australia, masuk ke ponsel: “Indonesia kena tsunami, ya?” Iwan dan Indah pun terkejut. Pasalnya mereka belum beroleh kabar apapun tentang terjadinya tsunami di Indonesia. Iwan segera menyalakan teve di kamar hotel mereka, dan benar saja, sejumlah stasiun teve tengah menayangkan bencana tsunami yang melanda Bangladesh, Thailand, dan juga di Aceh. Saat itu juga Iwan dan Indah merasa sangat prihatin, sekaligus bersyukur diloloskan dari bencana dahsyat yang dapat saja menimpa mereka. Namun tak hanya sampai di situ saja. ”Kami ingin melakukan sesuatu, tapi bingung, tidak tahu harus berbuat apa,” ujar Iwan. Sampai akhirnya, setibanya di Jakarta, muncul ide mengumpulkan dana dengan cara membuat kaos dan menjualnya. *** Membuat disain sebuah kaos bukan hal yang baru bagi Iwan dan Indah. Itu lantaran keduanya merupakan “orang periklanan” yang memang kerap berkutat dalam soal kreativitas menjual produk lewat disain iklan dan olah kata-kata. Kebetulan, Iwan dan Indah memiliki alat sablon kaos di rumah mereka. Dengan menggunakan uang dari kocek mereka sendiri, kaos-kaos berdisain unik mulai mereka produksi. Usai itu, Iwan, yang pernah menjabat sebagai Creative Director di sejumlah perusahaan periklanan ternama di Indonesia, tanpa merasa segan atau malu-malu, menawarkan kaos-kaos seharga 50 ribu rupiah tersebut ke sejumlah orang, mulai dari teman dekat, rekan sekerja, dan sebagainya. “Awalnya banyak yang bertanya-tanya,’ngapain, sih?’, ‘di-audit, nggak?’ atau bahkan bernada miring menuduh kami memanfaatkan bencana untuk kepentingan pribadi,” ujar Iwan. “Padahal, kenyataannya justru kami yang habis-habisan keluar dari kocek keluarga.” Hal tersebut memang sempat membuat Iwan merasa down dan ragu untuk melanjutkan upaya penggalangan dana. Namun, Indah segera menyemangatinya, “Kenapa harus ragu kalau niatnya memang baik?” Dan Iwan pun segera menghapuskan kegalauan hatinya, dan terus menggalang dana lewat kaos karyanya. “100 persen hasil keuntungan penjualan kaos-kaos tersebut kami donasikan untuk Aceh,” ujar Iwan. Untuk penyampaian bantuan di Aceh, Iwan memutuskan untuk bekerjasama dengan sebuah yayasan yang dikelola oleh sebuah kelompok media. “Kami tahu benar komitmen yayasan tersebut, dan memang sudah sejak lama yayasan tersebut memiliki jaringan yang cukup kuat di Aceh.” * Kesempatan untuk membantu sesama muncul kembali saat bencana gempa bumi melanda Yogyakarta dan Jawa Tengah. “Kami kembali mendisain dan memproduksi kaos untuk penggalangan dana,” jelas Iwan. Lagi-lagi mesin sablon milik mereka berjasa besar. “Hanya dalam waktu tiga jam setelah gempa, disain kaos selesai dibuat. Tiga hari kemudian, kaos sudah siap dijual untuk penggalangan dana. Dengan demikian, kami dapat mempersingkat waktu untuk memberi bantuan,” tegas Iwan. Saking cepatnya kaos buatan Iwan dan Indah beredar, sambil bercanda, sejumlah teman dekat sempat mengomentari bahwa pasangan ini mempunyai jadwal bencana di Indonesia. “Padahal, yang berjasa itu adalah mesin sablon kami yang berada di rumah,” ujar Iwan sambil tertawa. “Kalau di jaman revolusi, mesin cetak adalah alat terpenting, di masa seperti sekarang ini, mesin sablon lah yang terpenting. Itu karena hanya dalam waktu beberapa jam, kita sudah dapat menyampaikan pesan di selembar kaos, memakainya, dan hanya dengan berjalan-jalan, pesan dapat tersampaikan.” Seperti halnya pada penggalangan dana Aceh, Iwan dan Indah juga bekerjasama dengan sebuah yayasan untuk menyampaikan bantuan. Namun, selain itu mereka juga langsung mendatangi lokasi bencana, dan menyerahkan bantuan. “Dengan dana tersebut, kami membelikan sembako, sarung, cangkul, sampai beha, juga celana dalam, dan mengantarkannya langsung ke sebuah desa bernama Padasan, Imogiri,” papar Iwan. Iwan sempat gelagapan ketika ditanya penduduk setempat yang hendak mencatat dari yayasan atau lembaga mana bantuan tersebut berasal. “Saya jawab saja: ‘dari pembeli kaos’,” kata Iwan tersenyum. * Bagi Iwan dan Indah, kegiatan membantu sesama merupakan pengalaman yang amat membekas di hati. Keprihatinan pasangan ini akan kondisi Indonesia telah membuka mata mereka untuk terus melakukan sesuatu bagi negeri tercinta. “Dari sana muncul ide Action for The Nation alias Indonesia Bertindak. Intinya adalah mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk berusaha, dari dan untuk rakyat,” jelas Iwan. Berbagai isu sosial pernah diangkat Iwan dalam bentuk komunikasi massa. Misalnya saat busung lapar melanda negeri ini, Iwan dengan cerdas mengkomunikasikan isu tersebut dengan printing material berupa gambar sendok yang difoto pada sisi cembungnya – menyerupai perut yang buncit akibat busung – dan memberinya komunikasi kata: Sendok Tanpa Nasi, Nasi Tanpa Gizi. Begitu pula saat Indonesia divonis lewat travel warning, oleh sejumlah negara. “Kondisi Indonesia digambarkan sangat buruk, berdarah-darah, bahkan digolongkan sebagai kawasan Red Zone,” ujar Iwan kesal. “Saya rasa, siapapun, Warga Negara Indonesia, pasti prihatin dengan travel warning yang dijatuhkan atas negara kita.” Tapi, menurut Iwan, pada kenyataannya memang tak ada tempat atau negara yang benar-benar aman di dunia ini, dan travel warning cenderung bermuatan politis. “Buktinya, berkat” travel warning, negara tetangga kita justru beroleh panen besar di bidang pariwisata!” tegas Iwan. Namun Iwan pun menyadari bahwa Indonesia tidak dalam posisi yang menguntungkan untuk melawan stigma negatif tersebut. Lagipula, penerapan travel warning memang merupakan hak sebuah negara untuk melindungi warga negaranya. Kembali Iwan dan Indah tak berhenti sampai di situ saja. “Kalau mereka punya hak menetapkan travel warning, saya juga punya hak menetapkan”TRAVEL WARNING: INDONESIA DANGEROUSLY BEAUTIFUL!“ ujar Iwan bersemangat. Yang dimaksud Iwan tak lain adalah kampanye terbalik alias reverse campaign atas Indonesia, di mana justru peringatan kepada para wisatawan, bahwa keindahan Indonesia sungguh luar biasa, sehingga mampu membius siapapun yang mengunjunginya – yang dianalogikan sebagai dangerously beautiful. Slogan tersebut kemudian dituangkan Iwan dalam bentuk stiker, kaos, tas dan pin, dan mulai disebarkan pada medio Maret 2007. “Untuk pembuatan stiker, saya dibantu oleh seorang tetangga, yang bersedia dibayar secara nyicil, lho!” jelas Iwan, yang menghabiskan dana awal sebesar 30 juta rupiah untuk mewujudkan kampanyenya ini. Walau lagi-lagi dia sempat mendapat cap negatif, seperti sok kaya dan kurang kerjaan, Iwan tetap gigih menggerakkan jejaringnya untuk menyebarkan virus perubahan ini. “Sejumlah teman – orang asing – yang berada di luar negeri, ataupun sahabatnya yang hendak bepergian, baik ke dalam negeri maupun luar negeri, bersedia membantu menyebarkan stiker ini,” kata Iwan. Bahkan, beberapa waktu lalu, sebuah perusahaan consumer goods bersedia mencetakkan stiker sebanyak 250 ribu lembar. “Hebatnya, perusahaan tersebut bersedia namanya tidak dicantumkan sedikitpun di stiker tersebut,” papar Iwan. Stiker berwarna dasar merah dan kuning menyala tersebut memang terbukti mampu memprovokasi siapapun yang melihatnya. Hanya saja, tak jarang ada pihak yang salah menyikapinya, bahkan curiga. “Maklumlah, kampanye ini menggunakan bahasa Inggris, sementara, pemahaman orang Indonesia soal hal ini masih kurang,” ujar Iwan. Namun, justru dengan penggunaan Bahasa Inggris tersebut, Iwan berharap kampanyenya dapat lebih bersifat global. Tak hanya itu. Saat sejumlah civitas akademika di Bandung, yang turut mendukung kampanye Iwan, tengah turun ke jalan, mereka sempat ada juga oknum aparat pemerintah di lapangan yang justru berharap dapat menangguk untung dari kampanye ini. Di sisi lain, Iwan tetap berharap agar kampanyenya ini dapat dilirik oleh pihak-pihak lain, seperti pemerintah. Tak lain karena sesungguhnya efektifitas kampanye ini akan lebih terasa bila dikerjakan secara bersama-sama. ”Apalah artinya seorang Iwan dan Indah, yang memiliki kemampuan terbatas ini,” ujar Iwan dengan nada merendah. ”Memunculkan kesadaran inilah yang sulit.” Menurut Iwan, yang dia dan Indah cita-citakan sebetulnya tidak sulit. ”Kami hanya ingin menjadi cheerleader alias pemandu sorak bagi rakyat dan pemerintah Indonesia, agar solid dalam segala permasalahan yang menghadang bangsa ini,” tegas Iwan. ”Bagi kami, bila kampanye ini ternyata gagal, tak menjadi masalah. Yang terpenting, kami pernah berbuat secara nyata, dan melakukan tanggungjawab kami terhadap generasi yang akan datang.” INDONESIA DANGEROUSLY BEAUTIFUL. ABSOLUTELY! ----- Iwan dan Indah lewat Indonesia Bertindak, kini tengah berusaha mewujudkan kegiatan Lomba Poster Propaganda Pariwisata Indonesia. Dengan kaedah komunikasi ala dunia periklanan, lomba ini ditujukan untuk membalik stigma buruk tentang Indonesia di mata dunia internasional. Untuk mendukung kampanye Indonesia Bertindak, Anda dapat mengirimkan SMS ke 0888-8-17-1945. Yoi, coy! Nina dah hamil lhoh! Alhamdulillah. Gue amat sangat bersyukur sama Allah SWT, diberi kemudahan dan dicepatkan. Lucu banget, lhoh!
Jadi, suatu hari, tepatnya seminggu setelah kami bulan madu (Ntar gue ceritain jalan2 bulan madunya, yah. Sabarrrrr), Nina bilang ke gue, "Ndut, gue kok blum dapet-dapet yah?" Karena gue gak mau high hope, gue bilang ajah, "Paling telat. Tunggu aja sampe minggu depan. Baru test pack."
Intermezzo: Perhatikan kata-kata santai yang gue ucapkan. Nah, itulah bedanya yang udah pake surat alias nikah, sama yang belum. Kalau yang belum, pasti jawabannya, "Wadow! Kok bisa sih! Cepet beli test pack, biar ketahuan! Aduhhh, kalau positif gimana nehhhh???" Huahaha.
Lanjutttt!! Minggu depannya tiba, di pagi hari pada hari minggu, Nina test kehamilan pake alat ECG buatan Abott, yang kami berdua beli di Guardian. Gue masih tidur gitu dah. Maklum, malemnya baru.... Tiiiitttt (CENSORED).
Selesai ngetes, Nina ngebangunin gue, "Ndut, ini kok gak ada tanda apa-apa yah?" Well, berhubung gue juga ga familia dengan hal-hal kayak gini, gue bilang, "rusak kali? Tar kita beli lagi." Trus, bobo lage... zzzzzzzzz.
"Ndut.... Nduttt," Nina berusaha ngebangunin panda bobo. "Apaan?" jawab gue. "Ini," katanya sambil nyerahin testpack. Ada tiga indikator yang semuanya menunjukkan positif hamil. "Hah? Ehhh... Alhamdulillah!!! Tapi ini bener gak, sayang? Akurasinya gimana?" tanya gue. "Emangnya alatnya gak rusak? Tadi kok gak bisa??" gue terus nyerocos nanya.
Friends, ada rasa yang aneh di dalam hati gue. Gabungan antara rasa takjub, kaget, senang, bingung, gak percaya, mau percaya tapi ragu soal akurasi, dan segalanya.
Akhirnya, gue and Nina sepakat untuk hold rasa senang kita. Jangan high hope dulu. Kita pengen tunggu seminggu dulu, trus cek ke dokter.. jreng jreng jrenggg... Persoalan baru muncul: Rumah sakit mana? Dokter siapa? Akhirnya, dengan berbagai pertimbangan, kita milih Rumah Sakit Muhamadiyyah. Dokternya? Kumaha engke alias gimana entar ajah dah. hehehe
The D-Day. Gue lagi ada acara kantor. Biasa, RDI 5.30, talkshow yang... bla bla.. gitu deh. Tar gue critain di segmen laen. Pokoke, akibat acara itu, Nina harus berangkat sama bokap ke RS. Begitu kelar acara, gue langsung ngebut ke RS. Untung belum diperiksa.
Nunggu 30 menitan, gue dipanggil masuk. Dokternya trus set up alat USG, dan "meneropong" isi perut Nina, and...... Bo! Gue mau nangis terharu. Gue lihat janin mungil. Dah ada "kepalanya", trus gue dengerin bunyi detak jantungnya. SO AMAZING. Subhanallah! It ours! Alhamdulillah!! Terus gue ucapin.
Selesai di USG, gue and Nina konsultasi sama dokternya. Sempet kocak pas gue tanya usia kandungan. Rupanya, cara menghitung usia kehamilan itu dari mens terakhir! Pantesan, gue baru married sebulan lebih, kandungannya dah masuk minggu ke 6. Pas pandang2an ama Nina, kebingungan, dokternya ketawa ajah, sambil ngambil kertas dan mulai ngajarin kita berdua soal cara menghitung kehamilan.
Nah, Nina sekarang semakin membuncit. Panggilan barunya? Mungil Buncit. Heheheh. Gue tetep dipanggil Ndut. Hehehe. Ngidam? Dia gak pernah tuh. Perasaan guenya yang ngidam. Dan gue juga sering mual2 and pusing2. Nina juga tiap hari mual, pusing, dan perutnya gak nyaman banget. Well, no wonder Nabi Muhammad banget-banget meninggikan kedudukan kaum ibu: surga ada di bawah telapak kaki ibu.
Doain yah!!!
Fiuhhh.... Akhirnya, setelah gumbrang gambreng dalam hidup gue, akhirnya gue ketemu dengan tambatan hati gua. Tanggal 18 Februari 2007 lalu, gue mengucapkan ijab kabul, janji ikatan perkawinan gue ke Allah SWT and bini gue. So fast? It is!
Jadi gene neh critanya. Gue kenal bini gue dah cukup lama. Dia adik kelas gue, and adiknya senior gue di SMA. Dulu, gue sempet juga seh jalan ama dia. Tapi gak terlalu gimana gitu. Abangnya galak bow! Huehehehehe...
Pada suatu hari di tahun 2006, gue and anak Lomo pameran di Pasar Seni ITB. bisa ditebak, ga sengaja ketemu dia. Tuker2an nomor HP, and janji untuk ngobrol lebih lanjut via telepon. Janji tingal janji. Gue sibuk, doski juga.
Nah, pas puasa, iseng2 gue tele-tele ama dia, and gayung bersambut, doski juga asyik2 ajah. Gue ajak buka bareng, doski juga mau. Gue anter ke rumahnya, ajak buka bareng and sahur bareng. Akhirnya, gue beraniin ngajak dia ta'aruf. Dia mau! Huehehehehe.
Lepas bulan puasa, gue and dia and kakaknya and pacar kakaknya, kita bareng2 ke Bandung. Nahhhh... di Bandung itu dia gue lamar. Ngelamarnya di mobil kok. Pas ujan2an. Dan dia juga nerima.
Gue akhirnya ngelamar dia ke ortunya. Berhubung doski urang awak alias dari Batu Sangkar, gue merasa perlu mempersiapkan pantun: Ke Cikini, beli bunga mawar. Saya ke sini, untuk melamar.
Pendek cerita, dia dah jadi bini gue. Cihuy...
Lucu banget kalau gue inget2 jalan hidup gue. Pas selesai akad, gue cuman bisa bilang; "Ya Allah, ternyata ini tokh rencana Mu buat hambamu ini. Ini tokh hikmah di balik segala gumbrang-gambreng yang melanda hidup gue. Ini tokh, segala kebaikan yang Engkau berikan kepadaku, mempersiapkanku.
So, buat para jomblower, jangan menyerah! Keep the faith!!!!
ARRGGGHHH... Motor Y$(@*#^%*&@$*O&, Bus )(&@)(*^(&%^@(*&^)(, KAMMMMPPPPPP....ffhhhhh.. puasa...puasa... Duh, susah banget yah melawan hawa napsu emosi neh. Bawaannya marah mulu.
Pagi ini aja, pas mo berangkat ke kantor, dalam jarak 4 kilometer dari rumah, gue dah mo berantem ama motor dua kali, bus satu kali, taksi sekali, dan mobil pribadi 2 kali. UUhhh.. nyolotin!
Dah gitu, di kantor, gue dapet e-mail dari orang promosi gue yang ujug2 minta dibikinin ini dan itu. Booo.. itu kan sebetulnya tugas lo!! Gue cuman bantuin ajah! Males banget seh! Sabaarrrr... hush prabaaaa... nyoooossss...
Puasa tahun ini rasanya lebih buruk dari puasa gue tahun lalu, apalagi tahun-tahun sebelumnya. Padahal baru hari ke 16 lhoh. Gue ngerasanya kurang bisa maksimal njalaninnya. Salah satunya soal emosi itu tadi. Lah, pas gak puasa aja, gara2 di Sutiyoso goblok itu, jalanan macet berat karena pembangunan jalur busway yang bersamaan di seluruh penjuru kota, gue juga dah emo banget.
Mmmhh... basically, dalam kehidupan sehari-hari, gue orang yang jarang tersulut emosinya sampe besar2an. Gue cuman gak suka kalau ngelihat kesemerawutan, dis and miskordinasi, dam segala sesuatu yang punya flaws. Am I a perfectionist? Gak juga. Gua jauh dari perfekt. CUman gaue emang bukan orang yang bisa nyembunyiin isi hati dari wajah. Kalau gue suka, yan kegambar di wajah gue, dan sebaliknya.
Soal emosi ini, dulu pas rajin2nya Daarut Tauhid, gue selalu mencoba mengamalkan prinsipnya AA Gym. "Marah gak akan mengubah keadaan!" begitu kata beliau.Walhasil,gue merasa lebih tenang. Kalau ada yang gak beres, ya gue beresin tanpa berkeluh kesah, ngomel2, apalagi marah2.
Duh, menyebalkan.
Jadi, Ya Allah. Kalau engkau berkenan, jagalah puasaku, jagalah hatiku dan laku perbuatanku. Selamatkan aku dari kobaran napsu angkara murka. Dan ampuni segala kesalahan dan dosa-dosaku kepadamu. Juga dosa kedua ibu bapakku, saudaraku dan teman-temanku.
Amin...
A: Permisi, pak. Ini pesawat ke Yogya?
B: Bukannn, dek (dengan logat Madura yang kental). Ini pesawat ke Sorabaia (Surabaya maksute)
A: ???!!! Surabaya? Mmmhh.. transit di Yogya dulu kan, pak?
B: Ya, ndak, dek. Ini pesawat langsong Sorabaia.
A: (*Y(*&%&^$&T*(&)(U_)IU)&*&%^%$#^%R&IOPY{ UY*&R(&T(*U_)!!!!!!!
FYI, dialog di atas bukan bagian dari joke, tapi bener2 kejadian ama gue! Gini ceritanya...
Pada suatu hari, gue harus ke Yogya, untuk suatu keperluan. So, di hari Jum'at, pulang kantor, gue langsung ke bandara Soekarno Hatta, naik taksi, melewati jalanan yang super macet (Ohhh.. I miss KL Central).
Well, pendek kata, tiba juga gue di bandara kebanggaan rakyat Indonesia yang penuh dengan korupsi, calo taksi, taksi gelap, tukang peras TKI, kekumuhan, dan segalanya. Setelah check in di desk Adam Air, gue langsung boarding dan menunggu di gate yang telah ditentukan.
Sambil nunggu gue jalan2 di sekitar gate, foto2 pake Lomo Fisheye, and ndengerin iPod. Gue lirik jam, ternyata dah deket waktunya. Gue segera kembali ke gate. 'Kok tidak ada tanda2 mau berangkat yah?' pikir gue. Biarlah. tar tokh dipanggil kalau sudah waktunya berangkat.
Ternyata, jam dah lewat jadwal, masih gak ada tanda2 berangkat. Gue rada resah. Tapi gue pikir, biasalah, namanya juga pesawat di Indonesia. Ngaret berangkat mah wajar... Gue tunggu lagi, sampai akhirnya diumumkan agar penumpang naik ke pesawat.
Singkat cerita, gue dah naik di pesawat dan menempati tempat duduk sesuai boarding pass gue. Seorang bapak mendatangi bangku gue:
Orang: Maaf, kursinya nomor berapa?
Gue: Nomor ini pak. Ini tiket saya.
O: Oh, gimana ini. Kok nomornya sama?
Pramugari: Maaf pak. Mari saya bantu. Bapak saya tempatkan di bangku sebelah sana saja yah.
O: OK.
G: Orang yang aneh!
Setelah insiden itu, gue mulai melakukan hobi gue di tengah keramaian: scanning. Gue menyimak pembicaraan, gesture, tingkah perilaku, bau/aroma di udara, keadan pesawat. Mmmhh... Tumben banyak orang Madura mau berkunjung ke Yogya. Mmmmhh.. gak cuman orang Madura, tapi yang Suroboyo juga banyak. Mmmmhhh.. di sini gue mulai sensing sesuatu yang gak wajar, dan akhirnya terjadilah dialog yang di atas banget ntu tuh, pas di pembuka blog ini.
Anjriiiitttt... Kalo lo salah naek angkot itu mah wajar. Salah naek bis, juga masih sangat acceptable. Salah naik kereta? Well, masih boleh lah. But elo salah naek pesawat!!! What's on earth??? Bayangin ajah. Sebelum naek pesawat, elo harus diperiksa tiketnya dan ditunjukin gate-nya. Trus lo nunggu lagi, sampai pas mau boarding diperiksa lagi. Betapa stupidnya ground crew Adam Air yang mengizinkan penumpang dengan tiket jurusan Yogyakarta, untuk naik pesawat menuju Surabaya. Daaaaaa????
Gue langsung panggil pramugarinya, trus di temenin ground crew gue ke kantor mereka dan mencak2. Entah apa yang terjadi, sampai gue yang dari tadi nungguin di gate, sampe bisa ketinggalan pesawat, dan dinaikkan ke pesawat yang jurusannya berbeza! Damn!
Dah gitu, bukannya mengaku salah, mereka berusaha membela diri, dengan menyalahkan gue. Menurut mereka gue datang terlambat. Well, gue punya bukti gak terlambat. Kan tercatat waktu check in. Stupid juga tuh orang. Trus dia berdalih tiket gue hangus karena sudah di boarding. Gue ngotot, dengan alasan gue diboarding di jurusan yang salah. Kalau di boarding dengan jurusan yangbenar, gak bakalan ada kejadian ini. Alias, si ground crew gak memperhatikan tiket gue pas gue boarding, melainkan asal robek ajah!
Lama-lama tu petugas makin ngeselin, dan gue suruh diem. "Saudara diam saja. Tunggu telepon dari kantor pusat." Dia langsung diem, Mungkin mikir, siapa lagi si panda imut ini. Pake ngancem2.
Dengan emosi, gue telepon Dave, Marketing and Communication Director Adam Air. Sibuk. Gue telepon anak buahnya. Thanks God diangkat. Gue langsung ceritain apa yang gue alamin. Doski minta-maaf dan berjanji menyelesaikan persoalan ini. 30 menit kemudian, gue dah dapet jaminan untuk berangkat besok paginya. Dan pesan itu disampaikan oleh petugas arogan itu, dengan nada yang sangat menyesal. Biar nyaho luh!!
Moral of the story? Dalam hidup ini, lo harus bisa kenal sama orang-orang penting. Karena orang-orang itu yang bakalan bikin jalan lo lancar. Oh ya. Sama kudu punya kemampuan berdebat. Gunakan kata "Anda" atau "Saudara" dengan penekanan nada yang senyebelin mungkin. Good luck! Huahahaha...
Yup, this is love at the first sight. Walaupun dia gak bisa dibilang langsing, secara bodinya bahenol abis. Tapi I just love her. Simply like that. Mumun yang gue maksud, tidak lain dan tidak bukan adalah mobil gue. Mumun kependekan dari si Karimun. Mmmmhh, dengan berat 95 kg dan tinggi 171 cm, bermobil Mumun, awal2nya gue dicela raksasa naik mobil lah, gak pantes, kebanting, dsb. Tapi gue keukeuh. Because I love my car.
Not because I don't love my previous car. Setiap mobil gue punya kisah tersendiri. Gue pernah punya Mazda MR 90 tahun 1991. That's my first car. Ugly car indeed. At first, ni mobil cuman jadi alat transportasi semata. Maklum waktu itu gue kuliah, dan duit gue untuk beli mobil baru cuman cukup buat beli tu mobil. So, help me God, I bought that car. ACnya dingin abis. The best dah kalo soal itu. Tapi, tuh mobil juga akhirnya gue modif, dan berhasil masuk otomotif. Bangga banget. The most beautiful MR 90 in Jakarta!
Berbarengan sama MR, gue juga pake Mercy Tiger 200 tahun 1981. Tapi gak lama, karena ni mobil bikin bangkrut! Boros banget!
Lama gue pake MR 90, ada rezeki, gue ganti Mitsubishi EVO 3 GLX Matic tahun 1993. My first automatic transmission car. Kocaknya ini mobil gue dapet dari temen gue yang laen, tanpa kita tahu kita itu dah kenal. Biar matic, my Lancero d'otomatizo ini kenceng banget. I love speed! Warnanya putih, dengan style rally, pake pelek 16", wuih, cantik banget! Sayangnya, karena belakangan sering mogok, gue jual. Padahal baru gue cat and turun mesin!
Next, gue ganti Maestro tahun 1992. Kata temen2 gue, ini mobil yang paling pas sama gue. Mobil om2. Maksud lo?? Huahahaha.. I Also fall in love with this car. Kalau dari speed, kalah dari EVO dah. Cuman, bicara nyaman... Ini jagonya! Gue seneng banget klinong2 keliling jalan tol Jakarta naek si Mae. Gue pasangin TV mobil, audio dll. Nyaman abis! Tapi,lagi2 harus gue jual. Gara2nya BOROS BANGET! Mengingatkan gue sama Mercy Tiger gw.
Well, kisah itu akhirnya membawa Mumun ke pelukan gue. Mobil berbentuk aneh yang bisa bikin gue jatuh cinta. Pertama dari keiritan. Bulan pertama gue punya ni Mumun, gue surprise ngedapetin duit sisa banyak di tabungan. Compare dengan Maestro yang nguras 1,6 juta sebulan dari gaji gue hanya untuk bensin, Mumun hanya minum bensin 600rb sebulan. Compare juga dengan onderdil EVO yang masyaallah muahalnya, dengan duit 200rb, gue dah bisa dapet hampir tiga kali lipat barang2nya Mitsu.
Belom lagi soal leganya ruangan interior. Bisa ngangkut orang banyak (terakhir ngangkut 6 orang dewasa di Ragunan), lampu2 studio, bahkan standee buat prawedding. Wuah, lega banget!
Sekarang gue lagi meningkatkan kemampuan akselerasi ni mobil. Maklum, kalo dipake tarik2an, pasti kalah. 980cc seh. Untungnya temen2 gue dari Karimun Club punya solusinya. Sekarang rada lumayan lah.
So, gue sering bilang ama diri gue sendiri. Seperti sobat gue, Safir Senduk, sering bilang, bahwa jangan membeli barang yang konsumtif semata, gue cukup bangga dengan keputusan cerdas dan menguntungkan ini, yaitu beli karimun biar bisa ngirit duit buat beli bensin, supaya bisa nabung. Kalau dah nabung, kayaknya gue pengen beli Mercy atau BMW.. Lhoh???
Well, gak tahu knapa, gue suka banget sama sepatu. Dari SMA gue demen banget koleksi sepatu, dan setelah kerja semakin menjadi-jadi. Gue beli sepatu hampir setiap bulan. Emang sih cuman sepasang, maksimal duan pasang, tapi nyokap gue dah biasa tuh namanya tiap bulan komentar, "Spatu baru lagi?" Dan gue cuman bisa jawab dengan anggukan dan nyengir. Tapi nyokap gak bisa ngelarang. Comparing sama hobinya dia belanja tas Aigner atau Gucci, sepatu-sepatu gue gak ada harganya! Huahaha.
Baru-baru ini gue beli sepatu Puma warna item dengan hole pad, neck dan upper sole warna hijau muda. Upper solenya malah dari suede, yang sebetulnya kalo diperhatiin lebih mirip karpet masjid! Huahaha. Yang gue demen adalah strip bendera Italia di sisi terluarnya. Wuih, keren abis!
Tapi gue sedih juga, Lacoste gue dah mangap di sole sampingnya. Maklum, sering gue pake liputan. Padahal ini salah satu sepatu favorit gue. Kulitnya lembut banget. Dan inside solenya juga enak banget ngepress kaki lo. Gak terlalu ketat, tapi juga gak terlalu longgar. Cushionnya, walau bukan ala Clark atau Rockport yang punya bantalan udara, somehow, enak ajah di pake. Gue pengen bawa ke Laba-Laba, tapi gak sempet. Selain itu gue males dengan ide itu sepatu bakalan dibongkar untuk dibetulin, yang pilihannya either dikasih lem lagi (which is cuman lem biasa, bukan bawaan pabrik), atau disol alias dijahit. Kedua pilihan ini gak ada yang menyenangkan, membayangkan my lovely Lacoste bakalan di dedel duwel...Hiks..
Yes, I love shoes. Totalnya berapa yah? Wah lupa! Tapi gue rasa maniak sepatu gue ini berawal dari jaman SMA saat sering bisnis sepatu taman puring. Yup, gue dulu sempat jadi makelar sepatu buat nambah2 duit saku di jaman SMA. Tiap ada temen gue yang pengen beli sepatu, gue approach, lalu gue tanya modelnya yang gimana. Begitu gue tahu modelnya (biasanya kita rame2 ke Pasaraya Sarinah), gue akan ke taman puring (TP), untuk nyariin. Kalau dapet, lumayanlah dapet duitnya. Hehe. Everbody hepi. Maksudnya, temen2 gue bisa minta duit seharga sepatu di Pasaraya ke ortunya, tapi beli ama gue dengan harga cuman setengahnya. Mereka dapet sepatu plus duit ekstra korupsi and mark up, gue dapet duit komisi. Hehehe.
Di SMA juga awal perkenalan gue sama hand made shoes. Dulu di kawasan Pancoran ada tempat namanya Delovi. Wah, bagus banget bikinnya. Kualitas kulitnya OK banget. And gue seneng banget pake sepatu yang solnya dari kulit. Apalagi kalau tuh sepatu dipake ke Fire (whoa, old school abis!!!) sama temen2 gue, untuk clubbing gila2an. Perfect match for the dance floor! You can slide, slice, and chop top! Sempet juga maniak bikin sepatu di Perbanas. Tapi sepatu hand made di sini low quality! Kulitnya jelek, dan pengerjaannya sloopy. Makanya gue kembali ke Delovi. Pas ke Singapur, gue juga sempet bikin sepatu. Modelnya ngikutin florsheim. Tapi yang paling hebat adalah kualitas kulitnya yang berwarna burgundy. Gila, top abis.
Sepatu gue paling mahal mereknya Hugo Boss dan Pacioti. Dulu harganya hampir 2,5 juta each. Tentunya penghasilan gue dari kantor yang lama dah berlebihan. Walaupun kalau diinget2 sekarang, kok bodo bener yah, beli sepatu sampe segitu. Tapi, hebatnya tuh sepatu awet banget. Saking awetnya, si Hugo jadi cemilannya tikus! Sialan!!!
Tapi kemaren gue bangga banget. Lantaran pas ke sports station, ada sepatu yang gue taksir, tapi gue berhasil menahan diri untuk nggak beli. Padahal tuh sepatu Reebok yang untuk driving. Keren euy. Tapi, kayak puasa, gue menahan diri, and I proud of myself!
Ngomong sepatu, gue inget salah satu episode dalam Meteor Garden (Yes! I was watching that movie!). "Gunakanlah sepatu yang terbaik, karena sepatu itu akan membawamu ke tempat2 yang indah." So, shoemaker, keep up the good work! And you also Michael Schumaker! Grab the F1 2006 Champion title!
God be with us always...
Lo pernah gak punya relationship yang amat sangat deket sama temen2 lo, kayak "bands of brother", tapi tahu2 atas sebab yang lo gak tahu pasti, ikatan pertemanan itu jadi renggang dan akhirnya bubar. Gue menggaris bawahi "gak tahu pasti" karena emang lo gak bakalan tahu pasti penyebab renggang dan bubarnya suatu hubungan pertemanan.
Yang lo tahu adalah selama ini, kayaknya, elo dah berusaha menjadi teman yang baek. Ndengerin keluh kesah mereka, membantu sekuat tenaga, bahkan bagi-bagi job kerjaan supaya temen2 lo dapet extra income. Pokoke elo dah berusaha, dan menyayangi mereka kayak keluarga sendiri ajah. Tapi tetep ajah, elo mental dari circle of friend.
Mmmhh.. pelajaran yang penting banget adalah Jangan Pernah Berharap Menerima Balasan Perbuatan Baik Kecuali dari Allah SWT. Karena namanya manusia adalah makhluk yang serba pelupa, terutama atas kebaikan orang lain. Yang diingat hanyalah kejahatan ataupun tuduhan kejahatan yang diperbuat orang lain. Segala kebaikan orang lain, mau berapapun banyaknya itu, bakalan luntur lantaran suatu kejahatan atau tuduhan kejahatan. Ibaratnya, air susu di balas dengan air tuba. My God...
Ya Allah, ampunilah segala kesalahan dan dosa-dosa ku kepada Mu, serta kepada kedua ibu bapakku, keluargaku, dan teman-temanku. Ampunilah juga segala kesalahan mereka.
Ya Allah, berikanlah ketabahan untuk menghadapi jiwa-jiwa yang dzalim, dan berikan kekuatan untuk melunakkan hati-hati yang dzalim.
Amin...
57 ribu siswa di kota Bandung terancam putus sekolah. 34.689 anak di Kabupaten Bone tidak sempat menyelesaikan pendidikan dasar.
Suatu sore di sebuah town square di Jakarta, sejumlah remaja seliweran sambil bersenda gurau. Beberapa duduk santai di kafe atau resto, sambil asyik ngobrol menikmati makanan atau sekadar kopi hangat. Nampak gelang karet berwarna merah menyolok melingkari pergelangan tangan mereka. Ada yang mengenakan di tangan kanan, adapun yang di kiri. Dan mereka tampak bangga mengenakan “aksesoris” tersebut.
Namun, tak hanya para remaja saja yang menggilai gelang “gaul” ini, melainkan juga manula, sekretaris, manajer investasi, artis, pengamat ekonomi, ketua LSM, sampai juga menteri dan mantan menteri. Melintasi batasan usia dan profesi.
“Benar-benar di luar dugaan, bahwa gelang ini bisa laku 7.000 buah dalam waktu dua bulan,” ujar Yudhistira Juwono, penggagas gelang solidaritasKEBERSAMAAN alias gelang karet “gaul” berwarna merah.
“Padahal, kami hanya mentargetkan terjual 1.000 gelang perbulan,” paparnya antusias.
Kisah berawal saat Yudhis membaca sebuah majalah terbitan luar negeri, dan menemukan artikel tentang produk bernama wristband support atau gelang peduli yang langsung menyedot perhatiannya.
Produk tersebut berupa gelang karet beraneka warna. Setiap warnanya melambangkan dukungan terhadap suatu tujuan. Walaupun simpel, ternyata gelang tersebut berhasil ‘menggerakkan’ hati banyak orang.
Penasaran, Yudhis segera mencari lebih banyak informasi tentang gelang peduli melalui internet. Bersama istrinya, Yudhis juga melakukan survei kecil-kecilan kepada para keponakan yang masih duduk di bangku SMP dan SMA, serta mencari informasi di sejumlah majalah lokal. Pria bertubuh tinggi ini sempat kaget bahwa tren gelang peduli yang tengah happening di berbagai negara, ternyata sama sekali tidak menyentuh Indonesia.
Setelah membulatkan tekad, dan didukung penuh oleh istri dan keluarganya, serta dibantu oleh teman-teman di kompleks perumahan tempatnya tinggal, Yudhis memberanikan diri membuat gelang peduli untuk solidaritas Indonesia. “Prinsipnya, kalau laku kan lumayan bisa membantu anak Indonesia,” tekad Yudhis waktu itu.
Dipilihlah warna merah, sesuai dengan salah satu warna bendera dwi warna. “Tadinya mau pakai warna putih, tapi ternyata sudah dipakai oleh program Make Poverty History, yang dimotori Nelson Mandela dan Bono,” jelas Yudhis.
Untuk tulisan pada gelang, Yudhis memilih solidaritasKEBERSAMAAN, kata yang pernah diucapkan oleh Presidan RI Susilo Bambang Yudhoyono di TV, saat terjadi bencana di Aceh tahun 2004 lalu. “Wah, sempat diledek teman-teman: ‘nggak ada yang lebih norak lagi?’,” ujarnya sambil tertawa.
Permasalahan timbul berkenaan dengan penyaluran sumbangan hasil penjualan gelang tersebut.
“Kalau orang yang kenal kita sih, nggak masalah. Karena mereka sudah tahu dan percaya. Tapi kalo belum kenal, kemungkinan bakalan curiga: dikemanain nih uangnya?” Yudhis berkisah. “Disitulah kami bertemu dengan Seto Mulyadi, Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA), yang juga dikenal sebagai pemerhati anak.”
Kepada Kak Seto, Yudhis menyampaikan idenya untuk membuat gelang kepedulian, yang sebagian hasil penjualannya akan disumbangkan ke program-program Komnas PA. Ide tersebut langsung disambut gembira oleh Kak Seto.
Selain Kak Seto, Yudhis juga menggandeng artis Dik Doang yang dikenal dekat dan peduli dengan anak. “Padahal waktu itu Dik Doang baru pulang dari Aceh, masih capek. Namun dia sangat antusias mendengar ide ini,” kenang Yudhis. Kedua tokoh ini lalu menjadi ikon bagi solidaritasKEBERSAMAAN.
Pada tanggal 21 Februari 2005 Yudhis secara resmi menjual gelang solidaritasKEBERSAMAAN. Awalnya dia mencoba menjual melalui media, namun karena belum banyak yang tahu mengenai gelang peduli, respon yang diterima kurang menggembirakan. Akhirnya dia memutuskan untuk promosi dari mulut ke mulut, mencoba menjual kepada sanak saudara dan teman. Ternyata teknik ini berhasil.
“Saya banyak dibantu oleh simpatisan, orang-orang yang nggak saya sangka mau membantu,” papar Yudhis.
Dari mulai fotografer untuk materi iklan sampai web designer yang membantu men-develop situs www.tunascendekia.org. Begitu pula hasil perkenalannya dengan sejumlah orang, membuahkan jejaring yang memberi dukungan bagi usaha Yudhis.
“Seorang teman, yang merupakan penyelenggara acara Jakarta International Java Jazz Festival, bahkan memberikan booth secara gratis untuk kami,” ujar Yudhis bersemangat. “Menyewa booth di acara tersebut mencapai puluhan juta!” Padahal, awalnya Yudhis hanya berharap teman barunya tersebut bersedia mengenakan gelang merah tersebut, agar komunitasnya juga tertarik.
Menyebarkan kepedulian, itulah sebetulnya yang dituju Yudhis dengan gelang solidaritasKEBERSAMAAN. “Agar saat satu orang memakai, dia dapat menyebarkan kepedulian yang sama kepada orang lain, dan begitu seterusnya,” ujar Yudhis.
Hasil penjualan gelang di dua bulan pertama (February-Maret’05) akan direalisasikan dalam bentuk Mobil Perpustakaan Keliling untuk Anak Indonesia.
BOX
Bermula dari Kanker
Kandidat presiden AS, John Kerry, memakai gelang kuning. Pejuang anti-apartheid, Nelson Mandela, dan musisi grup band U2, Bono, memilih gelang putih. Pemain sepak bola, David Beckham, mengenakan gelang biru, sedangkan rekannya, Thiery Henry dan Ronaldinho memakai gelang hitam putih.
Kuning, putih, biru, hitam putih, dan warna lain. Gelang-gelang ini tak hanya punya warna, tapi juga punya tujuan.
Memang tidak ada fakta sejarah yang pasti mengenai awal booming-nya gelang peduli. Tapi nampaknya gelang kuning LiveSTRONG, sebagai bentuk kepedulian terhadap peyakit kanker, adalah yang mengawali.
Kampanye gelang kuning (Wear Yellow) ini digagas oleh Lance Armstrong, atlet balap sepeda pemenang enam kali Tour de France, yang didiagnosa menderita kanker kandung kemih. Lance akhirnya berhasil sembuh dari kanker yang dideritanya, dan menjadi inspirasi bagi banyak orang. 40 juta gelang berhasil terjual dalam kampanye ini. Dan angka itu terus bertambah.
Sementara gelang putih menjadi perlambang kampanye memerangi kemiskinan. Berkat dukungan pemenang Nobel Perdamaian, Nelson Mandela, dalam waktu beberapa minggu saja, 100.000 gelang ludes terjual.
Berbagai gelang dengan warna lain juga tersedia, seperti biru untuk mendukung kampanye anti-bullying, hitam putih untuk kampanye anti rasialisme, oranye tua untuk AIDS/LifeCycle, merah muda untuk kanker payudara, dan sebagainya.
Namun, hati-hati, karena ada pula gelang yang dibuat semata untuk aksesoris alias tujuan komersial belaka.
Jadi, yang mana gelang Anda? Bayangkan! Di zaman modern ini ternyata PT Kereta Api Indonesia Daerah Operasi 3 Cirebon, Jawa Barat, masih mengambil setoran dari stasiun-stasiun secara manual. Uniknya lagi, pengambilan setoran itu menggunakan lokomotif jenis CC200 yang tinggal satu-satunya di dunia!
Matahari mulai meninggi saat Suherman mulai memeriksa sebuah lokomotif berwarna kombinasi kuning gading dan hijau tua yang diparkir di depan Dipo Perbaikan - Daerah Operasi (DAOP) 3 Cirebon. Hari itu, loko berjenis CC200 tersebut akan dipakai untuk mengumpulkan setoran sebagian stasiun yang berada di bawah kendalinya, yaitu 19 stasiun kecil yang tersebar di sepanjang jalur utara, antara Stasiun Besar Cirebon sampai Stasiun Tanjung Rasa. Mekanik Junior yang telah 16 tahun berkarier di PT KAI –dahulu Perusahaan Jawatan Kereta Api (PJKA) – memang dipercaya untuk selalu mempersiapkan loko bersejarah ini.
“Tradisi lok kas ini sudah ada sejak zaman kolonial Belanda,” jelas Hartono, Kahumas DAOP 3. Menurut Hartono, sebelum CC200 No. 15 dimanfaatkan sebagai lok kas, DAOP 3 menggunakan kereta langsa atau kereta pasar – yang berhenti di setiap stasiun– untuk mengambil setoran uang penghasilan masing-masing stasiun. Lok kas juga bertugas mengirimkan gaji pegawai ke stasiun-stasiun di setiap awal bulan.
Kegiatan tersebut terhenti karena rute kereta jenis ini dihapuskan. Pengambilan uang kemudian dilakukan dengan kereta penumpang reguler. Tak heran, terkadang setoran pendapatan sampai menumpuk di stasiun-stasiun tersebut akibat kesulitan mengambilnya. Jelas saja, tak seperti di kota besar dimana stasiun berada di tempat-tempat strategis, stasiun-stasiun kecil ini berada di pelosok pedesaan. Untuk menuju bank terdekat di perlukan perjalanan sampai dua jam dengan kendaraan bermotor. Perjalanan yang panjang dan beresiko!
Namun hal tersebut berubah setelah CC200 No. 15 selesai direstorasi. Jadwal pengambilan ditetapkan empat hari sekali. Pengelola stasiun pun lega karena tidak perlu menyimpan uang setoran terlalu lama sehingga dapat mencegah hal-hal yang tidak diinginkan seperti hilang, tercecer atau terpakai.
Dalam perjalanan lok kas CC200 No. 15 kali ini, saya bersama rombongan dari Indonesian Railways Preservation Society beroleh kesempatan untuk turut serta.
Sementara itu Suherman dengan cekatan naik ke loko dan langsung masuk ke kabin mesin. Mula-mula dia memeriksa kondisi sejumlah minyak pelumas. Tak ada masalah. Dia kemudian menuju engine switch panel yang terletak di dinding pembatas antara kabin masinis dan ruang mesin. Diputarnya kenop ke arah indikator “pump” agar bahan bakar terpompa ke mesin. Setelah menunggu sejenak sampai tekanan bahan bakar mencapai angka 2,8 kg/cm, kenop diputar ke indikator “start”. Sesaat terdengar bunyi berdesing diikuti dengan suara gemuruh khas mesin diesel ALCO seri 244E berkonfigurasi V12 empat langkah turbo supercharged. Memekakkan telinga! Awalnya hanya asap tipis yang mengepul, namun begitu turbo supercharged-nya bekerja, asap hitam pekat pun menyembur dari cerobong loko. Mesin diesel besar ini mampu menghasilkan 1.600 daya kuda.
Tugas Suherman belum selesai. Setelah mesin menyala, dia harus memeriksa kalau-kalau terdapat rembesan atau bocoran oli. Untung saja hari itu mesin dalam keadaan prima.
Ukardi, sang masinis, bersama Tara, asistennya, begitu tiba langsung bergegas membantu Suherman. Dengan sigap Tara, 28 tahun, memanjat ke bagian atap loko sambil membawa sebuah batang besi yang akan digunakannya sebagai deep stick untuk mengukur ketinggian bahan bakar berjenis High Speed Diesel alias HSD di tangki bahan bakar loko.
“1.700 liter!” serunya. Sebetulnya tangki bahan bakar tersebut memiliki indikator ukuran, namun sudah tak berfungsi lagi sehingga digunakan cara tradisional, yaitu mencelupkan deep stick ke dalam tangki bahan bakar melalui lubang pengisian. Selain memeriksa bahan bakar, Tara juga memeriksa tangki air pendingin yang juga berada di bagian atas loko.
Ukardi tak kalah sigap. Usai meletakkan tasnya di kabin masinis, pria yang masih tampak muda di usianya yang telah mencapai 50 tahun ini dengan teliti memeriksa bagian rangka loko. Mulai dari gearbox, stang rem, baut-baut, sambungan dan chassis, sampai pen pengaman yang tersebar di berbagai posisi. Disempatkannya pula mengelap bagian muka loko dan kaca-kacanya.
Selesai mengurusi bagian luar loko, Ukardi duduk di bangku masinis pada kabin masinis yang sempit. Dicobanya tekanan rem dengan menarik tuas yang terletak di sisi kanan. Bunyi desis langsung terdengar begitu tuas tersebut ditarik. Terdapat sedikit muncratan air. “Ngga apa-apa kok,” ujarnya kalem. Dengan seksama diamatinya indikator hidrolis, tekanan rem, serta kompresor. Semuanya tampak normal.
Tiga puluh menit kemudian loko CC200 No. 15 siap untuk bertugas. Ukardi perlahan melangsir loko dari posisi dipo ke spoor (jalur) 6 untuk kemudian menggandeng gerbong kereta makan KM2-82503 buatan Kinky Nippon Sharyo Japan tahun 1982.
Begitu keduanya bergandengan, saya bergegas melompat naik ke atas loko, yang kemudian diikuti dengan beberapa anggota IRPS. Anggota IRPS yang lain nampak kecewa karena tidak kebagian tempat di kabin muka. Akhirnya beberapa dari mereka naik ke kabin belakang loko sedang sisanya naik ke kereta makan. CC200 memang memiliki dua muka atau dua kabin masinis.
Izin dari Pimpinan Perjalanan Kereta Api (PPKA) Stasiun Besar Cirebon telah turun, dan tepat pukul 09.30 WIB kondektur memberi sinyal berangkat.
Masinis Ukardi menentukan arah maju loko dengan menekan tombol reversal. Dengan demikian masinis dapat memilih arah maju yang dikehendaki. Dia mendorong tuas selector – yang terdapat di bagian tengah loko – ke posisi tiga. Ibarat sebuah mobil, tuas ini berfungsi sebagai perseneling. Ditekannya sakelar generator fill ke arah on untuk membangkitkan tenaga, kemudian dengan sigap dia menggerakkan throttle alias gas, menaikkan putaran mesin, dan..…loko yang telah berusia 50 tahun itu bergerak perlahan sambil menarik sebuah gerbong.
***
Selain masinis, asisten masinis, saya dan rekan-rekan IRPS, di kabin itu juga terdapat mekanik senior Sukarsa yang bertugas sebagai TS alias trouble shooter. Tiga serangkai Suherman, Ukardi dan Sukarsa di sebut-sebut sebagai “dukun” CC200 karena ketiganya mumpuni merawat dan mengoperasikan loko ini.
Sukarsa beberapa kali membunyikan klakson loko untuk menghalau atau memberi peringatan kepada sejumlah orang yang lalu-lalang di rel. selama perjalanan, setiap melewati perlintasan KA, baik Sukarsa maupun Ukardi selalu membunyikan klakson.
Sementara Ukardi menekan throttle, menambah kecepatan loko sampai 60 kpj, Tara nampak mengamati dengan seksama sinyal-sinyal disepanjang rel yang dilewati lalu menginformasikan kepada sang masinis.
“Kuning, kuning, tahan,” ujar Tara begitu melihat sinyal kuning menyala sebelum memasuki stasiun Cangkring. Ukardi segera memperlambat laju loko dengan menarik throttle dan menurunkan selector. Dia menarik tuas rem beberapa kali. Loko pun terasa melambat. “Tidak ada patokan jarak kapan masinis harus mengerem apabila melihat sinyal kuning. Semua berdasarkan pengalaman,” ujar Ukardi yang telah mengabdi di PT KAI sejak tahun 1973.
“Hijau! Langsung!” teriak si asisten masinis begitu melihat sinyal hijau menyala di depan tanda perjalanan aman untuk diteruskan. Throttle segera diputar dan lok kas mulai melaju cepat. Selector pada posisi tiga. Inilah salah satu yang membedakan CC200 dengan loko lain yang lebih baru. Selector CC200 harus dikendalikan secara manual, sedangkan di loko modern lain selector-nya otomatis. Masinis hanya tinggal menekan dan menurunkan throttle.
Angin yang masuk ke kabin masinis membuat ruangan sempit tersebut lumayan mendingin. Agak sulit kami menaruh badan kami dalam kondisi yang sedemikian sempit tersebut. Kabin tersebut memang dirancang hanya untuk dua orang, masinis dan asistennya. Hal tersebut terlihat dari dua kursi lipat yang terdapat didalamnya.
Kabin yang dipisahkan dengan sebuah dinding pembatas atau firewall dengan ruang mesin tersebut memang tak dilengkapi pendingin ruangan seperti layaknya sejumlah loko yang lebih baru. Hawa panas dari ruang mesin dengan mudah menyusup ke kabin. Belum lagi suara mesin yang amat keras memaksa saya dan penghuni kabin lain harus setengah berteriak untuk dapat berkomunikasi. Bau oli terbakar dan asap pembuangan pun kerap tercium. Herannya, di tengah suasana berisik dan panas pengap tersebut, saya masih sempat…. tertidur.
***
Beberapa kali kami berpapasan dengan sejumlah loko yang lebih modern. Misalnya, loko jenis CC203 yang menarik rangkaian Argo Bromo dan loko CC201 untuk rangkaian Cirebon Express. CC200 --yang merupakan loko bertenaga diesel pertama di Indonesia-- seakan menjadi primadona hari itu. Apalagi warnanya telah dikembailkan ke warna asal yang mengacu pada warna loko di era tahun ’50-an.
Bentuknya yang cantik serta warnanya yang unik membuat siapapun menoleh bila ia memasuki stasiun. Tak cuma sekedar menoleh, di wajah mereka juga tergambar jelas kebingungan. Bahkan beberapa pekerja yang tengah membuat jalur ganda (double track) tampak terbengong-bengong sambil menunjuk-nunjuk loko yang kami tumpangi.
Jelas saja, loko ini sudah tak lagi masuk dalam jajaran loko operasional PT KAI, sehingga orang tak pernah melihat loko jenis ini beroperasi. CC200 No. 15 memang satu-satunya loko dari jenis ini yang masih berfungsi baik. Loko sejenis yang lain sudah menjadi besi tua dan di scrap. Bahkan di dunia pun ditengarai tak ada lagi CC200 yang beroperasi.
Di DAOP 3, selain loko nomor 15, masih terdapat dua loko lain, yaitu nomor 08 dan 09. Namun keduanya dikanibal untuk mendukung operasional CC200 No. 15. Kanibalisme terpaksa dilakukan karena suku cadangnya tak lagi tersedia. Jangankan suku cadang, American Locomotive Co. alias ALCO, pabrik pembuat mesin CC200 pun sudah gulung tikar. Semangat, ketekunan dan improvisasi awak Depo Perbaikan DAOP 3 patut diacungi jempol!
Sementara itu di gerbong kereta makan, Mulyadi, Polisi Khusus Kereta Api, tampak siaga. Sebatang tongkat kecil tak pernah lepas dari tangannya. Di hadapannya, kondektur yang bertugas melakukan pengambilan setoran, Adnan, tekun mencatat sejumlah data. Peti uang yang terbuat dari besi berwarna hijau terletak di bawah meja. Di peti itulah seluruh setoran akan dikumpulkan lalu diserahkan ke DAOP 3 untuk kemudian disetor ke bank.
Pukul 11.35 WIB, CC200 No. 15 tiba di Pabuaran. Rencananya akan segera ke stasiun Tanjung Rasa sebagai tujuan akhir. Namun kami mendapat informasi bahwa stasiun Tanjung Rasa tidak mempunyai setoran. Hal tersebut tidak mengherankan, stasiun kecil memang tidak selalu disinggahi kereta api. Karena itulah kami memutuskan untuk langsir ke Cirebon sambil menjalankan tugas sebagai lok kas.
Kami berhenti cukup lama di Pabuaran karena rangkaian Cirebon Express yang akan lewat. Akhirnya PPKA Pabuaran memberangkatkan CC200 No. 15.
Ukardi sejenak melambaikan tangan kepada kondektur stasiun tersebut untuk kemudian memutar throttle, melajukan rangkaian kereta api. Mesin diesel CC200 berderu kencang. Kecepatan berkisar antara 40 - 60kpj. Terkadang bahkan 70 kpj. Kecepatan yang cukup fantastis untuk sebuah loko tua.
Selepas Pabuaran, CC200 No. 15 selalu berhenti di setiap stasiun yang ada.
“Kuning, kuning,” ujar Tara yang diiyakan oleh Sukarsa. Di siang yang panas dan terang, memang agak sulit untuk dapat menentukan warna lampu sinyal kereta api. Loko melambat, memasuki jalur ke sebuah stasiun kecil. “Merah, merah,” ujar Tara. Ukardi dengan sigap semakin memperlambat laju loko. Sebelum tiang sinyal yang menyala lampu merah, dia menghentikan loko besar tersebut.
Adnan dengan didampingi Mulyadi bergegas menuju ruangan PPKA di stasiun tersebut. Di sana sudah menunggu seorang petugas dengan amplop uang yang berisi penghasilan stasiun tersebut selama empat hari terakhir.
Begitu Adnan tiba, petugas tersebut menyerahkan amplop berwarna biru muda. Sejenak Adnan mengamati amplop tersebut, kemudian dia menandatangani buku penyerahan setoran. “Dua ratus tujuh puluh dua ribu,” ujar Adnan yang kemudian diiyakan oleh si petugas.
Selesai. Keduanya bergegas kembali ke gerbong. Tiba di gerbong Adnan menyerahkan amplop tersebut ke Mulyadi untuk dicatat. “Dua ratus tujuh puluh dua ribu,” gumam Mulyadi sambil mencatat nomor amplop, asal stasiun dan jumlah setoran. Usai dicatat, Mulyadi mengembalikan amplop tersebut ke Adnan. Kini gilirannya yang mencatat. Adnan lalu membuka peti uang berwarna hijau dan menyimpan amplop tersebut di sana.
Loko CC200 No. 15 kembali melaju. Throttle berada di posisi empat. Kecepatannya kali ini hampir mencapai 80 kpj. Terkadang loko tua ini terasa bergetar dan bergoyang cukup keras, namun menurut Sukarsa, itu hal biasa saja. “Ini sih lumayan. Dibanding loko yang lebih muda, seperti CC201 dan CC203, loko ini jauh lebih nyaman. Masinis pun tak mudah lelah,” katanya, yang langsung diiyakan oleh Ukardi sebagai tanda setuju. Mungkin itu sebabnya saya sempat tertidur sejenak? Wallahualam.
Di sejumlah stasiun, petugas pembawa amplop atau kantong uang menunggu di pinggir jalur lintasan kereta. Sementara Adnan turun untuk mengambil setoran, Mulyadi dengan cermat mengawasi keadaan di sekitar stasiun untuk mencegah hal-hal yang tak diinginkan.
“Keadaan sekarang jauh lebih aman ketimbang saat saya baru bergabung dengan di PJKA,” ujar Mulyadi yang menjadi pegawai sejak tahun 1972. “Tahun ’70-an itu yang sangat berbahaya. Sering kejadian pembobolan kereta api. Tahun ’80-an lumayan aman. Tahun-tahun kemarin sudah tak masalah,” kata pria yang mengaku kerap melakukan pendekatan personal dan pembinaan terhadap masyarakat di sekitar jalur rel KA.
Penyerahan setoran dilakukan dengan cepat. “Harus cepat,” ujar Mulyadi. “Cuma tiga menit di setiap kereta api,” katanya lagi. Hal tersebut dapat dimengerti, penggunaan jalur kereta api diatur secara menyeluruh. Setiap gangguan, seperti keterlambatan, akan berimbas kepada jadwal kereta api yang lain.
Waktu menunjukkan pukul 14.50 WIB saat lok kas CC200 No. 15 kembali memasuki Stasiun Besar Cirebon. Sekali lagi loko tua ini menjadi perhatian calon penumpang kereta api. Ukardi mengarahkan loko ke spoor 6. Begitu berhenti, Adnan dibantu kondektur lain bergegas menurunkan peti uang setoran. Mereka membawanya ke kantor Kepala Stasiun. Dari sana petugas bank akan datang menjemput.
Bau oli dan asap tercium disekujur badan. Belum lagi jelaga hitam gemuk dan oli yang mengotori baju. Namun baik saya maupun anggota IRPS merasa lega sekaligus bangga. Lega karena tidak terjadi insiden apapun di sepanjang perjalanan, dan bangga karena CC200 No. 15 ternyata masih mampu mengemban tugas yang tak ringan tersebut kendati usianya sudah tua dan kelengkapannya tak begitu sempurna. Perjalanan yang memakan waktu sekitar lima jam tersebut ternyata sangat melelahkan. Untunglah segelas es teh manis dan semangkuk empal gentong khas Cirebon lengkap dengan nasi putih hangat dapat membuang jauh-jauh rasa lelah tersebut. Naik kereta api…tut…tut…tut…
“Mau ikut ke Cepu? Jalan-jalan naik kereta api uap.”
Aku tertegun sejenak saat membaca pesan SMS di ponsel. Pengirimnya adalah Widoyoko, seorang sahabat lama yang juga anggota Indonesian Railway Preservation Society (IRPS) alias paguyuban pecinta dan pelestari kereta api. Sebagai pecinta kereta api klasik, kesempatan langka ini tentu saja takkan kulewatkan.
Cepu adalah sebuah kota kecil yang terletak 35 Km tenggara Kota Blora, Jawa Tengah. Oleh pemerintah Hindia Belanda, sejak tahun 1870-an kawasan ini dijadikan kawasan hutan jati. Jenis tanah margalit serta musim hujan dan kemarau yang pas membuat pohon jati tumbuh subur, membentuk hutan seluas sekitar 33.000 hektar. Tak hanya itu, kayu jati Cepu dikenal memiliki kualitas terbaik karena kuat dan awet.
Kisah tentang hutan jati dan kereta api uap di Cepu memang tak dapat dipisahkan. Sejak tahun 1915, kayu jati hasil tebangan diangkut dengan kereta api. Namun, pada tahun pada tahun ‘80an, kegiatan ini dihentikan, seiring dengan semakin menipisnya persediaan kayu jati layak tebang, serta angkutan kereta api dianggap tidak efisien lagi.
Untungnya, pada akhir tahun ‘90an, kegiatan ini dihidupkan kembali. Namun zonder kegiatan penebangan hutan, dan digantikan dengan Loko Tour, mengangkut para wisatawan
***
Saat tiba di Dipo Lokomotif Perhutani Cepu pagi itu, tampak oleh ku lokomotif ‘Bahagia’, buatan pabrik kereta api Schwartzkopff - Berliner Maschinenbau AG - Jerman, tahun 1928.. Catnya yang berwarna hitam mengilap ditimpa cahaya matahari pagi, menaburkan pesona kecantikannya.
Para petugas kereta api sibuk bersiap. Selain mengisi ketel loko dengan air, mereka juga mengisi dua tangki persediaan, kayu bakar, serta pasir. Semuanya diletakkan pada ‘gerobak’ alias tender, yang dipasang tepat di belakang loko.
Stoker juga sibuk dengan tungku pembakaran. Lewat manometer yang terdapat pada ruang masinis, dia menjaga agar tekanan ketel mencapai 10 sampai 11 atm. Pasalnya, pada tekanan tersebut loko baru dapat beroperasi. Dua gerbong penumpang berwarna hijau muda diletakkan paling akhir rangkaian, setelah tender. Pada bagian depan loko dipasang gerobak kosong.
***
Asap hitam membumbung tinggi dari ketel loko, seiring dengan pemandangan serta suara khas loko uap tempoe doeloe: semburan uap air dan bunyi jesss... jes… jessss... Tepat pukul 08.00, ketika pluit tanda kereta api siap diberangkatkan dibunyikan Petugas Pengatur, Masinis membalasnya dengan membunyikan pluit loko yang melengking nyaring, memekakkan telinga.
Aku dan anggota IRPS bergegas naik. Ada yang memilih di tender dan gerbong, namun aku memilih gerobak kosong yang terletak tepat di depan loko. Tak berapa lama, loko berusia 77 tahun itu pun mulai bergerak, menarik rangkaiannya.
Loko uap dengan susunan roda 0-10-0 itu bergerak pelan, menyusuri badan rel yang hampir seluruhnya ditutupi ilalang dan rerumputan. Rel tua yang dibangun pada tahu 1915 dan memiliki lebar 1.067 mm itu memang tampak kurang terawat, namun tetap layak untuk dilalui.
***
Masinis tampak berhati-hati menjalankan kereta api. Selain kondisi rel, jalur rel juga melewati kawasan yang cukup padat penduduk. Berulang kali dia membunyikan pluit loko, memberi tanda peringatan bagi orang-orang yang lalu lalang di sekitar rel.
Selepas kawasan padat penduduk, kereta api memasuki Tempat Penimbunan Kayu (TPK), yang masih dalam kawasan Kantor Perhutani, lalu meluncur melintasi sawah dan perkebunan yang terdapat di sepanjang rel.
Kehadiran kereta api ini disambut oleh para petani yang sedang melakukan aktivitasnya. Mereka melambai-lambaikan tangan kepada kami dengan senyum lebar di bibir. Kami pun tak segan membalasnya, sambil membidikkan kamera.
Sesekali kami harus merunduk saat kereta menembus perkebunan. Pasalnya, dahan dan ranting pepohonan yang terdapat di kiri kanan rel kerap menyambar. Dipadu dengan kecepatan kereta, mereka mampu menjadi ‘cambuk’ yang mumpuni saat menebas bagian tubuh. Tapi kami tidak jera. Perjalanan ini terlalu mengasyikkan dibanding dengan deraan ‘cambuk’ alam tersebut.
Lokasi yang ditempuh cukup menarik karena berada di ketinggian 25 - 30 m di atas permukaan laut. Suhu udara di kawasan ini mencapai 22 - 34 derajat celcius, dengan curah hujan rata-rata 1.670 mm per tahun.
Perjalanan tersebut menempuh jarak 29 Km dengan kecepatan maksimum 20 Km per jam. Di bagian depan loko, dua awak KA menebarkan pasir ke atas rel. Gunanya agar roda loko dapat memperoleh traksi yang cukup, sehingga tidak slip.
***
Pemandangan di Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Cepu ini sungguh memesona. Jajaran pohon jati yang rapat, dengan hamparan sawah serta perkebunan, mampu menyejukkan mata, sekalipun panas matahari mulai menyengat.
Di atas sebuah jembatan, kereta api menyempatkan berhenti. Tak ayal, kami pun berhamburan keluar dan turun ke bawah jembatan. Masinis lalu memaju mundurkan kereta api. Rupanya sang Bahagia tengah berpose! Menyaksikan adegan tersebut, aku seolah-olah kembali ke jaman kolonial!
Pemberhentian selanjutnya adalah Monumen Hutan Jati Gubug Payung. Di sini, petugas KA kembali mengisi tangki air dan ketel. Namun tak hanya itu. Dikelilingi pepohonan jati yang rindang, kami juga beroleh kesempatan menikmati makan siang dengan sajian sate Blora dan nasi putih hangat. Nikmat sekali rasanya.
Total perjalanan kami memakan waktu lima jam, melintasi sejumlah kawasan hutan jati di wilayah KPH Cepu.
Saat perjalanan kembali ke Dipo, didera rasa capai akibat belum sempat beristirahat semenjak enam jam perjalanan dari Jakarta, aku menyempatkan memejamkan mata di salah satu gerbong. Semilir udara bebas polusi membuatku nyenyak tertidur. Tentunya dengan senyum puas tergambar di wajahku.
To Cepu with Love...
Engkau tahu yang ku mau
Engkau tahu yang ada dibenakku
Tak perlu kuucap lewat mulut
Segala lintasan di hati pasti Engkau mengetahuinya
Karena Engkau memegang rahasia umat Mu
Dan segala rahasia jagad raya
Kabulkan pemohonan ku ya Allah
Dan ampuni segala dosaku
Amin...
Amin...
Hello to myself.. Hihihihi... 
Hello to everbody... Huahahaha 
Smile everybody!!! CLICK!!!
| |